Kabar Kapuas

Hutan Lindung di Mentangai Kapuas Dirambah, Pembalak Pakai Senjata

Bahkan, sampai saat ini, pihak BOSF masih menemukan bukti-bukti pembalakan liar terjadi di wilayah kerja mereka di kawasan Mantangai,

Hutan Lindung di Mentangai Kapuas Dirambah, Pembalak Pakai Senjata
ISTIMEWA/Yayasan BOS
Kayu log hasil tebangan kawasan hutan lindung kapuas. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Perambahan hutan lindung di kawasan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, terus meluas. Hingga, Selasa (20/2 /2018) , sekitar lima kelompok pembalak liar hutan lindung tersebut beraksi pada 15 titik di kawasan hutan lindung.

Kawasan yang dibabat merupakan lokasi hidup sekitar 3000 ekor orangutan yang selama ini diawasi oleh lembaga Borneo Orangutan Survival Foundation (Yayasan BOS). 

Bahkan, sampai saat ini, pihak BOSF masih menemukan bukti-bukti pembalakan liar terjadi di wilayah kerja mereka di kawasan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah tersebut.

Baca: Jawab Tudingan Korupsi, Fahri Hamzah: Persekongkolan Nazaruddin dan KPK Sangat Dalam

Tak tanggung-tanggung kayu yang ditebang jenis ramin dan meranti yang dilarang di perjualbelikan."Ini sudah berlangsung lam tapi pelakunya bebas melakukan pembalakan hutan lindung,"ujarnya.

Perambahan hutan untuk kepentingan industri kayu terus berlangsung setiap hari. Kayu hasil pembalakan ditemukan setiap hari di sepanjang Sungai Mantangai

Tim dari Program Konservasi Mawas selalu melaporkan kejadian yang ditemui di lapangan kepada pihak yang berwajib, namun deforestasi ini masih saja terus terjadi.

Jhanson Regalino, Program Manager Program Konservasi Mawas Yayasan BOS kembali mengungkap, praktek pembalakan liar yang diduga melibatkan aparat dan cukong kayu yang mengambil untung dari aksi pembalakan tersebut.

Baca: Berumur Ribuan Tahun, Manuskrip Kuno Kitab Para Rasul Ini Masih Menyimpan Misteri

“Tim Mawas BOSF, hampir setiap kali menemui iring-iringan kayu hasil tebangan ini di sungai saat berpatroli di wilayah kerja kami yang mencakup 300 ribu hektare, mereka milirkan di kanal-kanal eks PLG yang kini airnya dalam,"ujarnya.

Yayasan BOS tidak memiliki kewenangan penindakan atau penegakan hukum, karenanya."Kami hanya bisa melaporkan kepada aparat penegak hukum, dalam hal ini Kepolisian, para penebang liar tersebut membawa senjata, kami khawatir diserang, karena jumlahnya puluhan orang,"ujarnya. (*)

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved