Makam Keramat di Ujung Pandaran

Makam Mendadak Ditemukan, Dipercaya Makam Buyut dari Datu Kelampayan

Warga Kotim lebih mengenal pantai ini, ketika secara tiba-tiba di lokasi ini ditemukan sebuah makam yang dipercaya

Makam Mendadak Ditemukan, Dipercaya Makam Buyut dari Datu Kelampayan
tribunkalteng.com/faturahman
Makam Al-Alimul Allamaah Syekh H Abdul Hamid bin Al'Alimul Allaamah Mufti Syeh Haji Muhammad As'ad (Buyut Datu Kalampayan) Kalsel. Ulama yang membawa agama islam pertama di Teluk Sampit, Pantai Ujung Pandaran. 

TRIBUNKALTENG.COM, SAMPIT - Bagi warga Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tidak ada yang tidak kenal dengan Pantai Wisata Ujung Pandaran yang terletak di Kecamaran Teluk Sampit.

Keindahan pantai ini tidak diragukan lagi, bukan hanya dikemal warga Kalimantan Tengah saja, tetapi juga dari provinsi lain di Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri.

Meski saat ini ke lokasi sudah bisa dicapai menggunakan kendaraan lewat darat, dulunya untuk mencapai lokasi wisata ini harus melalui jalur sungai, menggunakan kelotok.

Itu karena belum ada jalur darat yang menghubungkannya mengingat lokasi ini juga belum diketahui adanya makam keramat.

Baca: Sebut Mata Elang dalam Penyerangan Novel Baswedan, Ketua PP Muhammadiyah Diperiksa Polisi

Warga Kotim lebih mengenal pantai ini, ketika secara tiba-tiba di lokasi ini ditemukan sebuah makam yang dipercaya sebagai makam seorang ulama kharismatik asal Kalimantan Selatan.

Ulama tersebut bernama Al-Alimul Allamaah Syekh H Abdul Hamid bin Al'Alimul Allaamah Mufti Syekh Haji Muhammad As'ad (Buyut Datu Kalampayan) Kalsel yang membawa agama islam pertama di pulau tersebut.

Informasi dari, Bahriansyah, warga setempat, sejak saat itulah, banyak sekali warga berdatangan ke lokasi wisata Pantai Ujung Pandaran, sehingga sampai saat ini, pantai menjadi semakin dikenal hingga ke manca negara.

Penyebaran agama islam oleh ulama ini, hingga sampai ke Sampit dan Samuda dan kecamatan lainnya di sepanjang Sungai Mentaya, juga Kuala Pembuang Kabupaten Seruyan.

"Umur makam ini diperkirakan sudah ratusan tahun,"ujar Bahriansyah, warga setempat. (TRIBUNKALTENG.COM)

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help