TribunKalteng/

Kabar Dunia

Kisah Wanita Rohingya Jadi Korban Perkosaan Tentara Myanmar, Aborsi Jadi Pilihan

Patten bertekad mengangkat masalah ini dengan Pengadilan Pidana Internasional.

Kisah Wanita Rohingya Jadi Korban Perkosaan Tentara Myanmar, Aborsi Jadi Pilihan
(REUTERS/Mohammad Ponir Hossain)
Pengungsi Rohingya baru menunggu memasuki kamp pengungsi sementara Kutupalang, di Cox Bazar Bangladesh, Rabu (30/8/2017). 

TRIBUNKALTENG.COM - Di tengah meningkatnya bukti penggunaan metode perkosaan massal oleh militer Myanmar dalam pembersihan etnis Muslim Rohingya, ABC menemui para korban trauma ini, yang bersedia mengisahkan pemerkosaan massal dan kekerasan kejam yang mereka alami.

Menghadapi stigma yang tak terhapuskan, sekarang mereka memohon keadilan.

Dengan mengenakan niqab warna hitam Noor (18 tahun) duduk dengan hati-hati di lantai gubuk milik temannya.

Dia telah berkeliling di kamp pengungsi Kutupalong Bangladesh, jauh dari keluarga dan kampung untuk berbagi cerita yang dirahasiakannya, termasuk dari dokter sekalipun.

Baca: Dagu Disuntik Kolagen Biar Cantik, Sekarang Wanita Ini Malah Membuangnya, Rasanya Mau Mati

Semuanya dimulai ketika tentara Myanmar menyerbu Desa Laungdun, sebagai aksi balasan kejam terhadap serangan gerilyawan Rohingya pada bulan Agustus.

"Ketika militer mulai menganiaya penduduk desa, kami (perempuan dan remaja putri) melarikan diri dan sembunyi di sebuah rumah," katanya.

Para tentara menemukan mereka. Lalu pergi. Kemudian kembali.

"Mereka mulai menggeledah kami dan melepaskan pakaian kami secara paksa," kata Noor.

Noor dan beberapa perempuan lainnya dipilih, diikat dan dibawa pergi.

Halaman
1234
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help