Bisnis dan Ekonomi

Produk Berbahan Plastik Bakal Kena Cukai, Begini Tanggapan Pengusaha Dalam Negeri

Menurutnya ketimbang pemerintah terus menyasar cukai bagi produsen dalam negeri, sebaiknya regulator cukai dan pajak

Produk Berbahan Plastik Bakal Kena Cukai, Begini Tanggapan Pengusaha Dalam Negeri
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Petugas Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung merakit sejumlah tong sampah plastik di Jalan Braga, Kota Bandung, Rabu (1/11/2017). 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Wacana bakal ditariknya cukai produk plastik kembali mencuat. Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) mempertanyakan target dari cukai tersebut.

Menurut Sekjen Inaplas, Fajar Budiono, cukai tersebut belum mempunyai implementasi penarikan yang jelas. Terlebih, cukai akan semakin memberatkan industri plastik dan kemasan plastik yang sebagian besar didominasi oleh industri menengah ke bawah.

Baca: Ngompol, Bocah 5 Tahun Tewas di Tangan Ibunya! Tangan dan Kaki Diikat, Lalu . . .

"Hampir 80% itu dari sana (industri menengah ke bawah," kata Fajar kepada KONTAN (12/11/2017).

Menurutnya ketimbang pemerintah terus menyasar cukai bagi produsen dalam negeri, sebaiknya regulator cukai dan pajak bisa memaksimalkan produk plastik impor.

"Jumlah plastik impor itu jelas dan tercatat, tiap tahunnya bisa US$ 2 miliar dengan bobot 800.000 ton," urainya. Dengan jumlah nomor hs 115, kata Fajar, pemerintah bisa mengawasi keberadaan barang tersebut.

Baca: Pamela Safitri Pamer Belahan Dada, Suara Erangan ini Bikin Salah Fokus

 "Karena pengawasan barang beredar itu perlu. Pemangku kebijakan juga perlu turun ke bawah lihat lapangan," urai Fajar. Meski jumlah impor masih kalah dibandingkan dalam negeri yang tiap tahun bisa mencapai 5,6 juta ton, namun secara nilai harga plastik impor bisa mencapai US$ 2,5 per kilogram sedangkan lokal hanya US$ 1,6 per kilogramnya.

Kalau cukai tetap kukuh dilaksanakan, Fajar khawatir pelaku usaha cenderung menurunkan kapasitasnya karena beban yang ditanggung bertambah.

Dengan diturunkan kapasitas akan berpengaruh pada jumlah tenaga kerja sektor industri ini. "Terhitung saat ini ada 600.000 tenaga kerja yang berada pada industri ini," katanya.

Inaplas berharap pemerintah bisa menerapkan solusi yang holistik dan parsial. Karena komponen sektor industri ini beragam dan bisa ada multiflier effect.

Baca: Marc Marquez Juara Dunia MotoGP 2017, Ini Daftar Lengkap Juara di Semua Kelas

"Produksi plastik disini kan tidak 100% murni, melibatkan recycle juga. Itu perlu tangan-tangan pemulung," contoh Fajar.

Kalau memang mau kurangi limbah plastik, pemerintah harus memperbaiki manajemen pengelolaan sampah. Ia membandingkan konsumsi plastik Indonesia per kapita masih lebih rendah dibandingkan negara maju lainnya.

"Di sini hanya 21 kilogram per kapita, sedangkan Singapura bisa 50 kilogram dan Jepang di atas 60 kilogram per kapitanya," tukasnya. (Reporter: Agung Hidayat)

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Kontan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help