TribunKalteng/

Kok Polisi Cuma Tahan Dua dari Tiga Tersangka Penipuan Arisan Online

ujar AKBP Dodo, yang tidak mau menanggapi saat ditanya, tersangka Sy yang tidak ditahan adalah anak pejabat teras Pemprov Kalteng.

Kok Polisi Cuma Tahan Dua dari Tiga Tersangka Penipuan Arisan Online
TRIBUNKALTENG.com/faturahman
Dua orang tersangka Lj dan DL saat diboyong ke Kamar Tahanan Polda Kalteng, Selasa (7/11/2017).. 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Sikap penyidik Ditreskrimum Polda Kalteng yang hanya menahan dua orang dari tiga tersangka kasus penipuan arisan online di Kalteng dinilai tidak adil.

Ini diungkapkan dua tersangka yang ditahan saat digiring polisi menuju kamar sel di Mapolda Kalteng, usai ekspos kasus penipuan arisan online yang melibatkan anak pejabat teras Pemprov Kalteng.

Dua orang tersangka yang ditahan oleh polisi tersebut antara lain, tersangka LJ dan DL.

Tersangka Lj berusia 22 tahun adalah penjual baju di Pasar Kahayan yang tinggal di Jalan Mendawai Palangkaraya, berperan sebagai pencari nasabah dalam arisan online tersebut.

Sedangkan tersangka kedua dengan inisial DL (20) juga wanita dengan alamat di Jalan Tanjung Gang Silaturahmi Banjarmasin Kalimantan Selatan, perannya adalah penerima uang, keduanya ditahan polisi.

Anehnya, tersangka ketiga berinisial Sy (20) merupakan mahasiswi Jalan Luwi Kecamatan Pahandut,Palangkaraya yang berperan sebagai pencari nasabah yang merupakan atasan dari Lj, malah tidak ditahan.

Kasubdit III Jatanras Ditreskrimum Polda Kalteng, AKBP Dodo, Selasa (7/11/2017) menyebutkan, pihaknya secara subyektif belum yakin terhadap dua tersangka tersebut kooperatif dengan penyidik sehingga ditahan.

"Kami belum yakin terhadap keduanya bisa kooperatif, tapi untuk tersangka Sy kami yakin kooperatif, tempat tinggalnya jelas keluarganya juga jelas, "ujar AKBP Dodo, yang tidak mau menanggapi saat ditanya, tersangka Sy yang tidak ditahan adalah anak pejabat teras Pemprov Kalteng. (TRIBUNKALTENG.com/faturahman)

Penulis: Fathurahman
Editor: Ernawati
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help