Kalteng Kita

Selama Oktober, Palangkaraya Alami Deflasi dan Sampit Terjadi Inflasi, Kok Bisa Beda?

Indeks Harga Kenaikan (IHK) yang terjadi pada dua kota dan disurvei pada Kota Palangkaraya dan Sampit, ternyata justru berbeda.

Selama Oktober, Palangkaraya Alami Deflasi dan Sampit Terjadi Inflasi, Kok Bisa Beda?
web
ilustrasi

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Stabilitas ketersediaan bahan pangan dan konsumsi masyarakat di Kalimantan Tengah, cenderung stabil.

Namun Indeks Harga Kenaikan (IHK) yang terjadi pada dua kota dan disurvei pada Kota Palangkaraya dan Sampit, ternyata justru berbeda.

Berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS), kondisi ini terjadi selama Oktober 2017.

Jika Kota Palangkaraya mengalami deflasi, di Kota Sampit justru terjadi inflasi atau kenaikan.

Edy Saputra, anakis dari Bank Indonesia Perwakilan Kalteng, menyebut deflasi terjadi karena menurunnya harga bahan makanan.

"Sedangkan inflasi di Sampit karena ini menyangkut biaya-biaya yang ditetapkan pemerintah," jelas Edy, Kamis (2/11/2017).

Dijelaskan, inflasi di Sampit sebesar 4,1 persen, dipengaruhi kenaikan harga kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan, seperti naiknya harga tiket pesawat.

Secara umum, beberapa bahan kebutuhan masyarakat seperti bahan makanan di Sampit sebenarnya mengalami penurunan. Namun karena beberapa kelompok transportasi ditentukan di tingkat pusat mengalami kenaikan biaya lebih tinggi sehingga inflasi tidak dapat dihindari.

Sementara untuk Kota Palangkaraya, beberapa jenis kelompok oenyumbang deflasi antara lain bawang merah, garam, dan ikan tongkol.

"Secara umum, Kalteng mengalami deflasi sebesar 0,25 persen. Deflasi juga terjadi di seluruh provinsi se Kalimantan," timpal Edy. (TRIBUNKALTENG.COM/mustain khaitami)

Penulis: Mustain Khaitami
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kalteng
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved