TribunKalteng/

Kebohongan Dwi Hartanto, Ibundanya Juga Tidak Tahu

Mahasiswa doctoral di Technische Universiteit (TU) Delft, Belanda ini ramai dibicarakan lantaran berbohong

Kebohongan Dwi Hartanto, Ibundanya Juga Tidak Tahu
Dwi Hartanto 

''Saya melihatnya ini bukan fenomena, tapi sindrom mindernya yang masih ada. Kita merasa kurang percaya diri kalau dibandingkan dengan negara lain, seolah-olah kalau ada sesuatu yang datang dari negara lain atau sesuatu yang punya prestasi di negara lain menjadi suatu yang perlu. Tidak salah sih, tidak salah banget. Cuma jangan juga sampai buta,'' kata dia.

Di era medsos, lanjut dia, mudah sekali 'menyampaikan sesuatu yang tidak selalu benar dan tidak selalu orisinal'. Tapi sebaliknya, zaman informasi pula yang membuat proses verifikasi jauh lebih mudah.

Sejumlah media besar yang terlanjur memberi panggung bagi kebohongan Dwi Hartanto termasuk sederet media andalan seperti Detik, Tempo, dan program Mata Najwa di Metro TV.

Di program Mata Najwa misalnya, Dwi bahkan disanjung sebagai orang non-Eropa pertama yang masuk dalam lingkaran penting Badan Antariksa Eropa (European Space Agency/ESA).

Enda lalu membandingkan kasus Dwi Hartanto dengan Khoirul Anwar, peneliti Indonesia yang disebut oleh media dan banyak orang sebagai penemu dan bahkan memiliki paten untuk teknologi 4G. ''Saya melihat ada benang merahnya. Untungnya Khoirul Anwar tidak menipu ya, dia betul-betul seorang peneliti dan memberi bantahan,'' kata dia.

''Saya yakin media dan orang Indonesia lain tidak punya niatan jelek untuk kemudian mendukung kebohongan Dwi Hartanto, tapi jangan juga terlalu naif untuk menerima begitu saja seolah-olah semua prestasi itu menjadi benar tanpa kita cek ulang.''

Matinya 'ruang kritik'

Enda berpendapat, di era medsos sekarang, sepatutnya segala lini cukup kritis untuk mengecek benar-tidaknya kabar yang beredar.

''Kadang hal kritis ini pun kita agak ragu mengungkapkannya karena khawatir dianggap iri atau tidak ingin melihat orang lain senang. Padahal ruang untuk kritis itu sebenarnya penting,'' kata dia.

Ruang kritis, yang menurut Enda luput oleh media yang memberikan panggung kepada Dwi Hartanto adalah memverifikasi prestasi akademisnya.

''Kritik terhadap teman media juga, prestasinya akademis itu sesuatu yang sebenarnya mudah untuk dicek. Berapa banyak paper yang dia tulis, berapa kali dia dikutip oleh peneliti yang lain. Itu sebenarnya sangat mudah, bisa kita cek.''

Sementara itu, Ketua Umum Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I4), Johny Setiawan, dalam surat pernyataan sikapnya mengatakan bahwa kelakuan Dwi Hartanto 'membahayakan integritas akademisi'.

Dari kasus kebohongan intelektual ini, Johny mengingatkan kembali pentingnya 'kode etik penelitian'. (Surya/BBC Indonesia)

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help