TribunKalteng/

Kabar Dunia

Liputan Wartawan BBC Ungkap Kebohongan Aung San Suu Kyi terhadap Muslim Rohingya

Sepanjang lebih dari 70 tahun pencatatan kekerasan oleh angkatan bersenjata Myanmar, nyaris tidak ada aparat militer yang mendapat sanksi di negara

Liputan Wartawan BBC Ungkap Kebohongan Aung San Suu Kyi terhadap Muslim Rohingya
EPA
Pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi, pernah mengatakan 'sebagian besar warga Muslim di Rakhine memilih bertahan'. 

TRIBUNKALTENG.COM - Pemimpin Myanmar, Aung San Suu Kyi, sudah memberikan pernyataan tentang kekerasan di negara bagian Rakhine dan krisis pengungsi minoritas umat Muslim Rohingya yang menyeberang ke perbatasan Bangladesh.

Wartawan BBC Jonathan Head -yang meliput langsung kisah warga Rohingya yang masih berada di Rakhine dan di tempat penampungan di Bangladesh- mengkaji beberapa pernyataan Suu Kyi itu dengan kenyataan yang disaksikannya di lapangan.

Aung San Suu Kyi : " Sudah tidak ada konflik sejak 5 September dan tidak operasi pembersihan ."

Pada tanggal 7 September saya ikut dalam lawatan media yang diatur pemerintah ke kota Alel Than Kyaw, dan kami mendengar tembakan senapan otomatis di kejauhan dan melihat empat kepulan asap, yang menunjukkan kampung-kampung dibakar.

Belakangan, masih hari itu, kami melintasi Gaw Du Thar, kampung warga Rohingya yang dibakar sejumlah pengikut Buddha di Rakhine di depan polisi bersenjata dan dekat dengan barak polisi.

Sekarang dari Bangladesh, kami melihat kepulan-kepulan asap di sisi seberang Sungai Naf dan kepulan asap itu cukup besar yang menjadi pertanda kampung-kampung dibakar.

Aung San Suu Kyi mungkin tidak menyebutnya sebagai 'operasi pembersihan' namun dengan kehadiran besar militer di kawasan itu, dekat dengan bantaran sungai, maka sulit untuk meyakini bahwa mereka tidak mendapat persetujuan diam-diam dari pihak berwenang di sana.

X
Wartawan BBC, Jonathan Head, melihat kepulan asap besar yang menjadi petunjuk kampung-kampung yang dibakar di negara bagian Rakhine. (BBC)

Aung San Suu Kyi: " Tindakan akan diambil atas semua orang -terlepas dari agama, ras, dan posisi politik- yang melanggar hukum setempat dan melanggar hak asasi yang diakui komunitas internasional."

Sepanjang lebih dari 70 tahun pencatatan kekerasan oleh angkatan bersenjata Myanmar, nyaris tidak ada aparat militer yang mendapat sanksi di negara bagian Rakhine atau di sejumlah kawasan lain tempat maraknya konflik di negara itu.

Sulit untuk menerima bahwa militer menegaskan semua 400.000 lebih umat Muslim Rohingya yang mengungsi sejauh ini karena keterlibatan dalam serangan oleh kelompok militan Tentara Penyelamatan Rohingya Arakan, ARSA.

C
Sekitar 400.000 umat Muslim Rohingya sudah mengungsi ke Bangladesh. (Getty Images)
Halaman
12
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help