TribunKalteng/

Kabar Kalsel

Semburan Gas Bikin Takut Warga Barambai, Pernah Setinggi Pohon Kelapa

Jika dilihat dari sejarahnya, semburan pertama di Kolamkanan, muncul pertama kali pada 2006. Wiwin Masruri menyebut, pada 2006 semburan gas yang muncu

Semburan Gas Bikin Takut Warga Barambai, Pernah Setinggi Pohon Kelapa
banjarmasinpost.co.id/huda
Warga melihat gelembung di air yang merupakan semburan gas di kolam dan persawahan milik warga di Desa Kolam Kanan Kecamatan Barambai, Kabupaten Batola, Rabu (6/9/2017). 

TRIBUNKALTENG.COM - PASCASEMBURAN kembali gas di Desa Kolamkanan, Barambai, Kabupaten Batola, Kalimantan Selatan membuat warga khawatir beraktivitas sehari-hari di rumah. Warga berharap instansi berwenang seperti Dinas Pertambangan Kalsel meninjau ke lokasi keluarnya gas.

Kata Wiwin Masruri, Camat Barambai, warga tak bisa beraktivitas seperti membakar sampah yang berserakan di halaman rumah. Kalau aktivitas di dalam rumah, warga tidak merasa khawatir seperti memasak menggunakan kompor.

Jika dilihat dari sejarahnya, semburan pertama di Kolamkanan, muncul pertama kali pada 2006. Wiwin Masruri menyebut, pada 2006 semburan gas yang muncul dari sumur bor setinggi pohon kelapa.

“Kurang lebih 100 meter lah, dan ini sudah diteliti oleh ahli dari Bandung dan dijelaskan bahwa ada kandungan gas metana. Bahkan, waktu itu, dorongan gas metana sangat kuat sampai mesin bisa terangkat setinggi pohon kelapa,” ungkap Wiwin.

Dia membenarkan sudah ada tindakan dari Pemerintah Kabupaten Batola untuk menarik investor melakukan eksplorasi. “Seingat saya sudah ada perusahaan yang meninjau ke lokasi. Bahkan, ada yang berpotensi kawasan Batola itu ada di tiga titik yakni di lingkar utara, Alalak dan Mandastana. Setelah diteliti, perusahaan tidak berani karena biaya eksploitasi lebih besar daripada pendapatannya.

“Sudah ditindaklanjuti. Kami akan koordinasi dengan Dinas ESDM Kalsel,” kata Edi.

Dikonfirmasi terpisah, Hanif Faisol Nurofiq, pelaksana tugas Dinas ESDM Provinsi Kalsel, menjelaskan pihaknya siap mengirimkan tim investigasi ke lokasi terjadinya semburan gas metana.

“Dari informasi, ESDM sempat melakukan pengecekan pada 2008 dan ditengarai kadar gas metana kurang ekonomis, perlu dilakukan kegiatan eksplorasi lanjutan. Waktu itu diketahui dengan kadar gas metana 89.20 mol persen,” ujarnya.

Pihaknya akan melakukan penutupan wilayah dampak dengan berkoordinasi aparat setempat. “Kami juga akan melaporkan ke Dirjen Migas karena pengelolaan migas adalah kewenangan pusat,” urai Hanif yang juga menjabat Kadishut Kalsel. (Banjarmasin Post edisi Kamis (7/9/2017)/lis/tin)

Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help