TribunKalteng/

Kabar Dunia

Dua Pesawat Milik Jepang Deteksi Nuklir Udara Pasca Uji Coba Nuklir Korut

Pesawat diterbangkan dari markas bandara militer Misawa di Perfektur Aomori pagi ini untuk terbang beberapa lama menuju daerah perbatasan dengan Korea

Dua Pesawat Milik Jepang Deteksi Nuklir Udara Pasca Uji Coba Nuklir Korut
Sankei
Pesawat latih T4 yang diterbangkan Senin (4/9/2017) pagi lewat Perfektur Aomori mendeteksi udara Jepang dari kemungkinan adanya debu nuklir Korut. 

TRIBUNKALTENG.COM, TOKYO - Kementerian Pertahanan Jepang memerintahkan badan bela diri Jepang (SDF) melepaskan pesawat latih T4 terbang menuju perbatasan dengan Korea.

Pesawat latih T4 ini diperlengkapi dengan alat pengumpul debu di bagian bawahnya untuk mendeteksi kemungkinan adanya debu nuklir akibat uji coba nuklir Korea Utara kemarin.

Seperti diberitakan sebelumnya, Minggu (3/9/2017) siang kemarin uji coba nuklir yang ke-6 dilakukan Korea Utara (Korut)  yang menghasilkan gempa buatan 6,1 SR.

"Pesawat latih itu diperlengkapi alat pengumpul debu di bagian bawahnya untuk mendeteksi nantinya ada tidaknya debu nuklir akibat uji coba nuklir Korut kemarin," ungkap sumber Tribunnews.com, Senin (4/9/2017).

Pesawat diterbangkan dari markas bandara militer Misawa di Perfektur Aomori pagi ini untuk terbang beberapa lama menuju daerah perbatasan dengan Korea mengumpulkan debu udara di lokasi.

Hal ini juga pernah dilakukan pesawat Jepang tersebut tahun lalu saat Korut melakukan uji coba nuklir bawah tanahnya yang ke-5.

Debu yang ada di udara terkumpul di dalam alat silinder yang ada di bawah pesawat tersebut untuk diteliti di Pusat Analitikal Jepang, guna mengetahui lebih detil ada tidaknya partikel radioaktif yang terkandung di dalam debu yang bertebaran di udara di perbatasan Korea Jepang.

Setelah pengerahan pesawat T4 ini, pihak Kementerian Pertahanan, Selasa (5/9/2017) juga akan mengerahkan pesawat transportasi C130 yang diperlengkapi dengan alat khusus pengumpul gas udara ke sekitar perbatasan tersebut.

Tujuannya untuk meneliti lebih lanjut ada tidaknya gas berbahaya mengalir di udara di perbatasan Korea.

Penelitian ini diperkirakan akan terus berlangsung sekitar satu minggu mendatang.
(Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo dari Jepang)

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help