TribunKalteng/

Kabar Haji

Kisah Jumilah Ingin Berhaji, ''Sering Menangis, Takut Tak Bisa Berangkat''

Belum lagi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Semuanya harus cermat dibagi, dan rezeki yang diterima harus dicukupkan.

Kisah Jumilah Ingin Berhaji, ''Sering Menangis, Takut Tak Bisa Berangkat''
kemenag kalteng
Jumilah Sabit Rais (62).

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Menunaikan ibadah haji merupakan keinginan dari kebanyakan umat Islam. Meski secara ekonomi, tidak sedikit yang memiliki kemampuan terbatas.

Tapi haji merupakan sebuah panggilan suci. Mereka yang memiliki tekat kuat, kerap bisa menjadi tamu Allah walaupun ika dihitung secara matematika, sulit diterima.

Pun dengan Jumilah. Perempuan asal Muarateweh, Kabupaten Barito Utara, Kalteng, ini telah membuktikan hal tersebut.

“Setiap bulan kami sisihkan seratus-dua ratus ribu. Terkadang kalau ada keperluan mendadak terpaksa tabungannya kita pakai. Namun berkat tekad kuat kami berdua alhamdulillah pada 2009 lalu kita bisa daftar juga di kantor Depag Barito Utara,” tutur Jumilah seperti dikutip dari situs Kemenag Kalteng.

Jumilah merupakan satu dari 1.619 jemaah calon haji asal Kalteng yang akhirnya bisa berangkat. Meski sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif di RSUD Doris Sylvanus Palangkaraya karena kondisi kesehatannya dianggap tidak memungkinkan.

Selama puluhan tahun, Jumilah bersama suaminya yang kini seorang purnawirawan anggota TNI menabung demi bisa mendaftar haji.

Padahal mereka hanya hidup dari gaji sang suami, sementara ada tiga anak yang juga harus dibiayai karena sedang kuliah.

Belum lagi untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Semuanya harus cermat dibagi, dan rezeki yang diterima harus dicukupkan.

“Saya terus berdzikir dan berdoa setiap saat meminta agar Allah segera memberi kesehatan. Saya sering menangis takut tidak bisa berangkat haji tahun ini,” ucapnya.

Jumilah bertolak ke tanah suci bersama rombongan kelompok terbang (kloter) 12 BDJ, Rabu (16/8/2017).

Suaminya yang sudah lebih dahulu berangkat ke tanah suci juga sering menghubunginya melalui telpon agar bersabar dan berdoa, pun begitu dengan sanak keluarga Muarateweh dan Palangkaraya.

Meski telah diperbolehkan berangkat, kabar terakhir menyebut Jumilah kini kembali harus menjalani perawatan intensif di RS Jeddah karena hipertensi dan diabetes yang dideritanya.

Semoga Jumilah bisa menunaikan seluruh rukun haji dan kembali bertemu dengan keluarga di tanah air. (Kemenag Kalteng)

Penulis: Mustain Khaitami
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help