TribunKalteng/

Kabar Kalsel

Waduh, Tiga Makam Keramat di Kalsel Dicoret dari Cagar Budaya

Konsekwensi dari pencoretan itu, sebut dia, petugas atau penjaga cagar itu tidak lagi mendapatkan insentif sebesar Rp1,5 juta bulan dari pemerintah pu

Waduh, Tiga Makam Keramat di Kalsel Dicoret dari Cagar Budaya
banjarmasinpost.co.id/ibrahim
Para peziarah memadati kawasan makam Datu Sanggul, Selasa (13/9/2016). 

TRIBUNKALTENG.COM, BANJARMASIN - Sebanyak tiga cagar budaya dari 42 yang ada di Kalimantan Selatan dicoret oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

Pasalnya, keaslian dari cagar sudah berubah dari bentuk aslinya bentuk sehingga tidak lagi masuk kategori cagar budaya.

Ketiga cagar itu yakni Makam Datu Abulung di Sungai Batang, Martapura, Kabupaten Banjar, Makam Datu Sanggul atau Abdussamad Al Palembangi di Tatakan, Kabupaten Tapin, serta makam Tumpang Talu Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Kata Ahmad Subakti, dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPRD Kalsel, alasan penghapusan sebagai cagar budaya tiga makam karamah atau wali Allah itu karena rancang bangun makam diubah dari aslinya atau keadaan asal.

Di berujar, Disdikbud Kalsel sejatinya ingin agar cagar budaya itu tetap lestari. “Tapi ketika ada ada informasi dari kemendikbud, kami tidak bisa berbuat banyak. Tiga cagar budaya itu pun telah dihapus dari data base kemendikbud,” ungkapnya.

Konsekwensi dari pencoretan itu, sebut dia, petugas atau penjaga cagar itu tidak lagi mendapatkan insentif sebesar Rp1,5 juta bulan dari pemerintah pusat atau kemendikbud.

Selain itu, lanjut Ahmad, tidak ada lagi alokasi anggaran untuk pemeliharaan renovasi cagar budaya tersebut dari pemerintah pusat.

Sementara itu, Soraya, anggota Komisi IV Bidang Kesra DPRD Kalsel meminta peningkatan sosialisasi mengenai cagar budaya, dan harus berkesinambungan atau terus menerus.

“Sosialisasi yang berkesimbungan (sinambung) atau berkelanjutan itu agar semua pihak memahami dan pada gilirannya turut menjaga kelestarian cagar budaya tersebut,” ujar politisi Partai Amanat Nasional (PAN) ini.

Dia sendiri mengaku sangat menyayangkan dicoretnya tiga cagar budaya di provinsi yang terdiri atas 13 kabupaten kota tersebut. Soraya berujar, dihapusnya tiga cagar budaya itu adalah salah satu bukti atau pertanda masih kurang maksimalnya sosialisasi tentang cagar budaya.

Dia juga meyakini, dicoretnya tiga cagar budaya di Kabupaten Banjar, Tapin, dan HSS itu bukan kesalahan penjaga atau pemugar.

“Yang namanya cagar budaya bukan sesuatu yang bisa kita dapat seketika, tetapi melalui proses waktu ratusan tahun. Jadi seharusnya kita jaga bersama kelestariannya,” ucapnya.

Selengkapnya baca harian Banjarmasin Post, Senin (7/8/2017), atau klik http://epaper.banjarmasinpost.co.id

Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help