TribunKalteng/

Kabar Dunia

Suhu Eropa Tembus 44 Derajat Celsius

seorang dari Romania dan seorang lainnya dari Polandia telah meninggal dunia akibat gelombang panas. Sejumlah orang juga telah dibawa ke rumah sakit.

Suhu Eropa Tembus 44 Derajat Celsius
Getty Images
Seorang perempuan mendinginkan tubuh di pancuran Kota Praha, Republik Ceko, saat suhu mencapai 38 C. Baik kalangan turis maupun penduduk di Eropa diimbau mendinginkan tubuh di pancuran publik dan menggunakan payung saat berjalan di luar agar terhindar dari dampak gelombang panas. 

TRIBUNKALTENG.COM - Gelombang panas terparah selama lebih dari satu dekade terakhir melanda sebagian Benua Eropa dengan suhu mencapai 44 derajat celsius.

Italia dan kawasan Balkan adalah dua daerah paling terdampak gelombang panas.

Di Sardinia, pulau teritori Italia di Laut Mediterania, temperatur menembus 44 derajat celsius. Kemudian di Roma suhu mencapai 43 C, sedangkan warga di Sisilia mengalami suhu 42 C.

Pemerintah Italia mengimbau penduduk tetap di dalam ruangan dan minum air dalam jumlah banyak.

Sejauh ini, sebagaimana dilaporkan kantor berita Reuters , seorang dari Romania dan seorang lainnya dari Polandia telah meninggal dunia akibat gelombang panas. Sejumlah orang juga telah dibawa ke rumah sakit.

x
Seorang pria membasuh kepalanya menggunakan air dari keran Alun-Alun Basilika Santo Petrus, Vatikan, pada 3 Agustus lalu. Suhu di Kota Roma mencapai 43 C. (EPA)

Gelombang panas pun telah mengakibatkan kebakaran hutan di Albania. Di tengah suhu 40 C, serdadu-serdadu bahu-membahu bersama ratusan petugas pemadam kebakaran untuk menghentikan laju kebakaran.

Bahkan, pemerintah Albania telah meminta bantuan darurat Uni Eropa untuk mencegah kebakaran hutan dekat Ibu Kota Tirana.

Dinas meteorologi Eropa, Meteoalarm, memperkirakan suhu tinggi akan melanda sejumlah kawasan di Eropa Tengah dan Balkan dalam beberapa hari mendatang.

x
Seorang serdadu Albania berupaya memadamkan api yang menjalar di tengah hutan. (AFP/Getty Images)

Karena itu, baik kalangan turis maupun penduduk diimbau mendinginkan tubuh di pancuran publik dan menggunakan payung saat berjalan di luar.

Kajian yang baru dipublikasikan jurnal ilmiah The Lancet Planetary Health , cuaca ekstrem berpotensi membunuh 152.000 orang setiap tahun sampai 2100 mendatang jika perubahan iklim tidak dihalangi.

Dari jumlah kematian tersebut, penelitian itu menyebutkan, 99% muncul akibat gelombang panas. Adapun daerah yang paling parah terdampak adalah Eropa bagian selatan. (Sumber: BBC Indonesia)

Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help