TribunKalteng/

''Terima Kasih, Ajakan Islah Itu Berupa Surat Pemecatan''

Namun bertolak belakang dengan ajakan damai yang disampaikannya, kubu Romy justru gencar memberikan SK pemecatan kepada kader-kader PPP pendukung Mukt

''Terima Kasih, Ajakan Islah Itu Berupa Surat Pemecatan''
Tribunnews.com/ Ferdinand Waskita
Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Romahurmuziy. 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA – Putusan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) dan PK yang mengabulkan permohonan Romahurmuziy (Romy) ditindaklanjuti dengan tawaran Islah Kubu Romy kepada Djan Faridz.

Namun bertolak belakang dengan ajakan damai yang disampaikannya, kubu Romy justru gencar memberikan SK pemecatan kepada kader-kader PPP pendukung Muktamar Jakarta.

Hal ini seperti disampaikan oleh Sudarto, Wasekjen DPP PPP kepada awak media pada saat pemberian santunan Jamaah Shalat Taraweh, di kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro 60, Menteng, Kamis (22/6/2017) malam.

"Saya ucapkan terimakasih kepada saudara Romy yang telah menawarkan islah kepada kami yang dilanjutkan dengan penawaran jabatan dan kedudukan kepada ketua umum PPP Djan Faridz. Islah itu baik, apalagi dilakukan di bulan suci Ramadhan ini," kata Sudarto.

"Saya juga mengucapkan terimakasih kepada Romy cs, atas realisasi dari ajakan islah itu ternyata berupa surat pemecatan terhadap kader-kader kami dan surat ancaman akan menduduki kantor DPP PPP di Jalan Diponegoro. Surat pemecatan tersebut terutama ditujukan kepada kader yang menjadi anggota Legislatif," kata Ketua Umum Angkatan Muda Ka'bah ini.

Menurutnya, hal ini menunjukkan akhlak yang sebenarnya dari Romy. Sudarto mengatakan, surat pemecatan dan upaya pendudukan DPP tersebut sangat absurd karena hanya berdasarkan portal website internet semata.

"Semestinya kita menahan diri dengan menghormati bulan suci Ramadhan ini," katanya.

Menurutnya, mereka belum mengetahui amar putusan PTTUN dan PK karena salinan asli dari Pengadilan belum diberikan kepada pihak-pihak yang berperkara hingga saat ini. Bisa jadi amar putusan tersebut tidak sesuai dengan yang mereka inginkan.

"Itu namanya nggege mongso, terlalu terburu-buru mereka. Semestinya bulan ramadhan ini mengajarkan kita semua mengerem syahwat politik dan bermuhasabah. Bukan malah mengumbar angkara murka," katanya

Sudarto menegaskan, Romy cs mungkin lupa bahwa mereka baru memenangkan tiga dari 10 sidang sengketa peradilan. Dimana tujuh kali justru dimenangkan muktamar Jakarta.

Halaman
12
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help