Marhaban Ya Ramadan

Syaitan Dibelenggu Saat Ramadan, Kok Maksiat Masih Ada?

Dibelenggunya jin dan syaitan ketika ramadan tentunya kita tidak mendapati perbuatan maksiat ketika ramadan karena jin dan syaitan tidak lagi membisik

Syaitan Dibelenggu Saat Ramadan, Kok Maksiat Masih Ada?
Banjarmasinpost.co.id/Isti Rohayanti
Ilustrasi - Jemaah Salat Tarawih di Mesjid Raya Sabilal Muhtadin Banjarmasin, Jumat (26/5/2017) malam. 

TRIBUNKALTENG.COM - Kita pernah mendengarkan ketika para penceramah mengutip hadis nabi pada kultum ketika jelang berbuka dan setelah salat subuh, yang menyatakan bahwa jin dan syaitan dibelenggu selama ramadan, ditutup pintu-pintu neraka dan dibuka pintu syurga.

Dibelenggunya jin dan syaitan ketika ramadan tentunya kita tidak mendapati perbuatan maksiat ketika ramadan karena jin dan syaitan tidak lagi membisikkan manusia untuk berbuat dosa. Akan tetapi ketika bulan ramadan prilaku maksiat masih saja kita jumpai selama ramadan.

Pimpinan Pondok Pesantren Al Adabi Azman Alka menjelasakan zat jin yang sering membisikkan hati manusia untuk berbuat maksiat saat ramadan dibelenggu. Karena telah dibelenggu, sifat-sifat jin tetap berada didalam diri.

Alquran surah An Nas yang menyatakan bahwa yang membisikkan kejahatan kedalam dada manusia dari golongan jin dan manusia. Azman memaparkan bahwa yang membisikkan dada manusia untuk berbuat jahat bukan saja dari golongan jin dan manusia. Namun nafsu didalam diri juga ikut membisikkan untuk berbuat hal yang melanggar.

“Karen Jin sudah dibelenggu saat ramadan, namun kita (manusia) masih dan tidak dibelenggu. Nafsu, kemauan dan macam-macam tabiat lainya,” ujarnya

Jika banyak orang bertanya, kenapa sandal bisa hilang di Masjid ketika ramadan. Bukan karena jin tidak dibelenggu akan tetapi nafsu manusia itu sendiri yang membisikkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan maksiat.

Azman menjelasakan potensi sifat manusia itu lebih dahulu adalah sifat jeleknya lebih dahulu. Hal tersebut dapat kita lihat dari kutipan quran surah as syam ayat kedelapan bahwa Allah mengilhami sifat jahat terlebih dahulu baru kemudian takwa. Jika manusia mampu mengalagkan sikap jahat maka termasuk orang yang hebat (takwa). (Tribun Pontianak/Hamdan)

Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved