TribunKalteng/

Kabar Kalimantan

Dokter Tersangka Penoda Agama di Balikpapan Jadi Tahanan Kota

Rahmad menerangkan keputusan tidak dilakukan penahanan terhadap tersangka tak lain mengingat kasus serupa yang bergulir di Jakarta (Ahok),

Dokter Tersangka Penoda Agama di Balikpapan Jadi Tahanan Kota
TRIBUN KALTIM / MUHAMMAD FACHRI RAMADHANI
OR (40), mengenakan baju Muslim putih, dengan kerah berwarna hitam saat menjalani sidang di kantor MUI Balikpapan, Rabu (12/21/2016). 

TRIBUNKALTENG.COM, BALIKPAPAN - Perkara kasus penodaan agama yang dilakukan seorang oknum dokter di Balikpapan, Kalimantan Timur terus bergulir.

Senin (8/5/2017) perkara tersebut resmi dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Balikpapan oleh pihak Kejaksaan. Hal itu diungkapkan Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Balikpapan, Rahmad Isnaini saat ditemui Rabu (10/5/2017).

"Senin kemarin pelimpahan tersangka dan barang bukti, berupa postingan Facebook (print), HP samsung rekan Oto yang mengetahui bahwa postingan itu benar ditulis oleh yang bersangkutan," beber Rahmad.

Kendati perkara tersebut telah dilimpahkan ke Pengadilan, namun Oto Rajasa (40) yang disangka telah melakukan penodaan agama tidak dilakukan penahanan di rumah tahanan.

Oknum Dokter, OR (40) yang disangka melakukan penodaan agama melalui akun media sosial miliknya saat ini ditetapkan sebagai tersangka.
Oknum Dokter, OR (40) yang disangka melakukan penodaan agama melalui akun media sosial miliknya saat ini ditetapkan sebagai tersangka. (tribunkaltim.co/muhammad fachri ramadhan)

Rahmad menerangkan keputusan tidak dilakukan penahanan terhadap tersangka tak lain mengingat kasus serupa yang bergulir di Jakarta (Ahok), tak dilakukan penahanan dalam proses hukumnya.

"Status penahanannya, karena kami terima sebelum putusan perkara 9 Mei (red-Ahok) kemarin, saya tak perlu sebutkan namanya. Perlakuan terhadap tersangka atau terdakwa tidak ditahan sampai di pengadilan. Tetapi untuk di Kejaksaan Negeri Balikpapan, berdasarkan petunjuk dan kebijakan pimpinan kami melakukan penahanan kota kepada Doker Oto," urainya.

Kasi Pidsus Kejaksaan Negeri Balikpapan itu juga sudah meminta penyidik dalam hal ini kepolisian untuk memantau keberadaan terdakwa nanti selama masa persidangan di Pengadilan.

Saat ditanya apakah ada kemungkinan pencabutan status tahanan kota usai dilimpahkan ke Pengadilan, pihaknya enggan berkomentar lebih lanjut.

"Itu jadi kewenangan pengadilan. Bisa saja tidak ditahan, sama dengan kami penahanan kota, bisa juga menahan dengan jenis penahanan di Rutan. Tergantung majelis hakim yang menanganinya nanti," tuturnya.

Dokter Oto Rajasa disangkakan pasal Pasal 28 (2) jo pasal 45 ayat 2 UUD ITE Nomor 11 Tahun 2008 dengan ancaman pidana penjara 6 tahun. "Dia juga dikenakan Pasal 156a KUHP dengan ancaman hukuman 5 tahun penjara," ujarnya.

Halaman
12
Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help