TribunKalteng/

Kabar Kalimantan

PLN Kalbar Sebut Layangan Bikin Merugi Miliaran Rupiah

Dari data itu PLN Kalbar berharap ada langkah tegas dari pemerintah seperti keseriusan penegakkan perda yang sudah ada. Termasuk juga dengan kesadaran

PLN Kalbar Sebut Layangan Bikin Merugi Miliaran Rupiah
TRIBUNPONTIANAK.CO.ID/NINA SORAYA
Manajer PLN AP2B Kalbar, Ricky Cahya Andrian, menunjukkan kawat konduktor yang rantas di Garduk Induk (GI) Siantan, Rabu (22/3). Akibat layangan yang masuk ke GI Siantan ini terjadi pemadaman pada Selasa (21/3/2017). 

TRIBUNKALTENG.COM, PONTIANAK – Manajer PLN Area Panyaluran dan Pengatur Beban (AP2B) Kalimantan Barat Ricky Cahya Andrian mengatakan layang-layang masih dianggap menjadi momok menakutkan bagi PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) dalam mendistribusikan kebutuhan listrik bagi masyarakat. 

Tak tanggung-tanggung kerugian yang dialami mencapai miliaran rupiah. Ia menyebutkan ada dua kerugian yang dialami PLN karena rusaknya transmisi jaringan listrik akibat layang-layang.

Kerugian pertama yakni kwh yang dimiliki PLN tidak bisa dijual lantaran tidak terjual dengan baik. Kerugian kedua yakni peralatan yang rusak dan harus mendapat perbaikan. 

“Biayanya tidak sedikit dan mencapai miliaran rupiah,” katanya, Rabu (19/4/2017).

Berdasarkan data dari PLN Wilayah Kalbar, kerugian yang dialami PLN selama tiga tahun terakhir mencapai Rp 6,68 miliar. Kerugian itu di antaranya 5,08 kwh yang tidak terjual dan Rp1,6 miliar kerusakan peralatan.

Sedangkan dari sisi waktu, gangguan layang-layang pada listrik umumnya terjadi pada pukul 17.00 dengan 167 gangguan. Kemudian diikuti pukul 16.00, ada 154 gangguan. Baru turun pada pukul 15.00 ada 50 gangguan, kemudian 14.00 ada 23 gangguan dan kemudian pukul 18.00 ada 15 gangguan. 

Dilihat dari sisi gardu induk, maka Gardu Induk Siantan dan Sungai Raya terdapat 195 gangguan atau 37 persen gangguan layangan.

Lalu untuk daerah yang sering gangguan dan seringnya permainan layangan seperti Desa Kapur, Parit Mayor, Saigon, Panglima Aim, Ya’m Sabran, Selat Panjang, 28 Oktober, Budi Utomo, Tugu Khatulistiwa, Kebangkitan Nasional dan Batu Layang.

Dari musim, Agustus menjadi bulan yang paling banyak terjadi gangguan pada jaringan listrik akibat layang-layang. Pada bulan ini ada 89 gangguan. Lalu bulan Mei 58 gangguan, April 46 gangguan, Juni 44 gangguan, Juli 43 gangguan, September 36 gangguan, Oktober 33 gangguan, Maret 30 gangguan, Februari 22 gangguan, November dan Desember 16 gangguan, serta Januari 15 gangguan. 

“Gangguan ini paling tinggi terjadi saat liburan sekolah dan musim kemarau,” kata Ricky. 

Dari data itu PLN Kalbar berharap ada langkah tegas dari pemerintah seperti keseriusan penegakkan perda yang sudah ada. Termasuk juga dengan kesadaran masyarakat mengenai bahaya bermain layangan. 

PLN juga melakukan langkah dengan menggencarkan razia yang melibatkan Satpol PP, TNI dan Polri. Hanya saja itu belum terlalu berbuah maksimal. 

“Belum menunjukkan hasil yang maksimal. Justru di awal tahun 2017 semakin marak,” ucapnya.

Selain razia, PLN juga mensosialisasikan pemilik bengkel agar tidak menjual kawat sling ke pemain layang. Alasannya, kawat inilah yang digunakan untuk bermain layang-layang.

“Kami berharap Wali Kota Pontianak bisa membuat surat edaran ke bengkel motor dan sepeda perihal larangan penjualan kawat sling ke pemain layang,” harapnya. 

Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help