TribunKalteng/

Kabar Kalimantan

Seorang Siswa MA di Nunukan Ini Tak Bisa Ujian karena Ditangkap Aparat Malaysia

besarnya biaya membuat pihak madrasah maupun keluarga Mudatsir kesulitan memenuhi kebutuhan untuk pengiriman soal maupun pembiayaan terhadap guru yang

Seorang Siswa MA di Nunukan Ini Tak Bisa Ujian karena Ditangkap Aparat Malaysia
net
Ilustrasi

TRIBUNKALTENG.COM, NUNUKAN - Seorang siswa Madrasah Aliyah (MA) Al Ikhlas Nunukan terpaksa tidak bisa mengikuti Ujian Nasional (UN) yang dimulai Senin (10/4/2017) hari ini.

Pasalnya, hingga kini Samsul Mudatsir (17) masih menjalani proses hukum di Negara Bagian Sabah, Malaysia.

‘’Sebenarnya saya sudah buat surat perintah, isinya agar ada guru yang mengantar soal ke Malaysia. Atas persetujuan Konsulat RI, biayanya kita serahkan ke pihak sekolah,’’ kata Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalimantan Utara, Sigit Muryono, Senin (10/4/2017).

Sayangnya, besarnya biaya membuat pihak madrasah maupun keluarga Mudatsir kesulitan memenuhi kebutuhan untuk pengiriman soal maupun pembiayaan terhadap guru yang harus mengantarkan soal dimaksud.

Kepala MA Al Ikhlas, Hadi Ariyanto mengatakan sudah membicarakan persoalan ini dengan pihak keluarga Mudatsir. Namun keluarga mengaku tidak bisa menyanggupi pembiayaan tersebut.

Jika dikalkulasikan, biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali keberangkatan setidaknya Rp 150 ribu belum termasuk pulang.

Biaya itu belum termasuk ongkos masuk pelabuhan yang mencapai sekitar Rp 45 ribu. Belum lagi biaya lainnya seperti biaya over bagasi sekitar Rp250.000. Biaya tersebut harus dikalikan tiga kali perjalanan.

‘’Tidak sanggup membiayai itu. Ongkos speedboat saja butuh biaya besar. Belum untuk yang mengawal soal itu ke sana,’’ ujarnya.

Padahal diakui pihak sekolah, Mudatsir memiliki prestasi yang menonjol.

Pada Olimpiade Sains 2016 Bidang Biologi, dia menduduki urutan kelima dari seluruh peserta di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Di kelas, dia juga tidak pernah keluar dari rangking lima besar. Karena itupula pihak sekolah menyesalkan kejadian ini.

‘’Keluarganya bilang tidak usah. Ya sudah! Paling solusinya nanti ikut ujian susulan kalau memungkinkan. Kalau tidak ya harus mengulang dan ikut ujian tahun depan,’’ katanya.

Mudatsir ditangkap Pasukan Gerakan Am Malaysia pada 28 Maret 2017 bersama tiga orang lainnya termasuk sang ayah.

Keempatnya diduga melakukan penyelundupan 307 tabung elpiji dari Tawau melintas Sungai Serudung, Negara Bagian Sabah, Malaysia.(*)

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Tribun Kaltim
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help