TribunKalteng/

Otomotif

Kok Agya-Ayla Tembus Rp 150 Juta? Padahal Harga Mobil Murah Dipatok Rp 100 Juta

Lebih lanjut ADM juga mengungkapkan bahwa memang ada insentif pajak yang diberikan melalui program LCGC.

Kok Agya-Ayla Tembus Rp 150 Juta? Padahal Harga Mobil Murah Dipatok Rp 100 Juta
Alex Suban/Alex Suban
Model berfoto pada peluncuran Toyota New Agya, di Jakarta, Jumat (7/4/2017). Kendaraan segmen "entry hatchback" yang didukung mesin berteknologi terkini yang lebih bertenaga dan efisien, yakni VVT-i berkapasitas 1.000cc dan dual VVT-i berkapasitas 1.200cc tersebut hadir dengan desain eksterior dan interior yang semakin stylish dan modern. 

TRIBUNKALTENG.COM, JAKARTA - Kalau Anda mempertanyakan mengapa harga Ayla makin mahal?

Apalagi setelah diluncurkannya penyegaran duo LCGC (Low Cost Green Car) yakni Astra Daihatsu Ayla dan Astra Toyota Agya. Makin mahal bos.

Kenapa harga Ayla makin mahal? Tentu patut dipertanyakan. 

Pasalnya, merujuk Permenperin No. 33 Tahun 2013, harga LCGC dipatok maksimal Rp 100 juta, belakangan dibolehkan lebih mahal jika dibekali fitur dan teknologi keselamatan penumpang serta adanya inflasi rupiah.

Lalu, makin ke sini harga Agya-Ayla terus terkerek hingga menembus hampir Rp 150 juta di varian tertingginya.

Nah, apa ada patokan sampai berapakah batas maksimal harga LCGC?

“Ada tiga hal yang menjadi batasan, yakni safety, teknologi dan inflasi. Kami mengikuti batas ini. Semua harga kami masih masuk batas yang ditentukan,” terang Amelia Tjandra, Direktur Marketing PT Astra Daihatsu Motor (ADM).

Lebih lanjut ADM juga mengungkapkan bahwa memang ada insentif pajak yang diberikan melalui program LCGC.

“Kalaupun ada spesial 10 persen pembebasan pajak bukan dinikmati oleh kami, tapi ke konsumen,” lanjutnya.

Dalam kesempatan terpisah, Fransiscus Soerjopranoto, Executive General Manager Marketing PT Toyota Astra Motor (TAM) mengingatkan kembali kalau dulunya mobil LCGC punya standar yang lebih rendah.

"Standar keselamatan LCGC itu pakai seatbelt. Nah, kami tambahkan perangkat safety yang lebih tinggi seperti airbag," ucap Suryo, sapaan akrab Soejopranoto.

Selain itu, menurutnya, kenaikan harga yang ditetapkan masih lebih rendah dibanding inflasi yang terjadi.

"Misal, inflasi di 5-6 persen, kami selaku produsen tidak serta-merta menaikkan harga sama dengani inflasi. Tetapi kami tetapkan hanya 4 persen," terang Suryo.

"Ini merupakan komitmen pabrikan agar konsumen tetap mendapatkan harga yang baik," lanjutnya.

Editor: Mustain Khaitami
Sumber: Otomotif Net
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help