Terlambat Beberapa Menit, 19 Siswa Madrasah di Muarateweh Dipukuli Pakai Sapu, Ortu Pun Sedih

Melihat anaknya dipukul dengan menggunakan sapu, orangtua ini akhirnya meluapkan kesedihannya di akun facebooknya.

Terlambat Beberapa Menit, 19 Siswa Madrasah di Muarateweh Dipukuli Pakai Sapu, Ortu Pun Sedih
facebook
Melihat anaknya dipukul dengan menggunakan sapu, orangtua ini akhirnya meluapkan kesedihannya di akun facebooknya. 

TRIBUNKALTENG.COM, MUARATEWEH - Melihat anaknya dipukul dengan menggunakan sapu, orangtua ini akhirnya meluapkan kesedihannya di akun facebooknya.

Aksi ini dilakukan oleh seorang guru di MTs Istiqomah, Muarateweh, Kalteng. Sebanyak 19 siswa dipukul dengan sapu karena terlambat beberapa menit apel.

Akun Atul Radha yang kemudian meluapkan kesedihan atas penganiayaan yang diterima anaknya pada 24 Maret lalu yang menurutnya membunuh karakter fisik maupun mental.

Dirinya yang juga memiliki profesi sebagai seorang guru mengaku tak berdaya melihat anaknya mendapatkan luka lebam.

Akibat kejadian tersebut, anaknya juga tak bisa berkonsentrasi jelang Ujian Nasional (UN) dan (Ujian Akhir Madrasah Berstandar Nasional) UAMBN.

sapu yang digunakan oknum guru (facebook)
"Betapa tidak enak hidup yang serba disalahkan, kenapa anakku yang menjadi korban pemukulan dg sesapu oleh seorang oknum guru hingga sebanyak 19 orang itu gara2 hanya beberapa menit terlambat ikut apel yang membunuh karakternya baik fisik maupun mental bahkan membuatnya sakit malah tidak mendapat perhatian.....apakah hanya masalah terlambat apel hingga begitu beratnya derita anakku....anakku...kita memang orang tak punya....tapi jangan perlakukan anakku seperti itu...wahai para orangtua relakah anak kalian yang kalian berharap untuk dididik dan disayang, dibina, tega memperlakukan anak dipukul dengan sesapu seperti binatang....aku mempercayakan di sekolah di MTs Istiqomah ini bersamaku aku berharap anakku mendapatkan perlakuan yang manusiawi, ternyata apa yang kudapatkan anakku mendapatkan pukulan merah lebam.....adakah belas kasih dari engkau ya para penegak kebenaran....aku menulis ini aku menangis, dan setelah kejadian itu anaku tidak bisa nyenyak tidur apalagi aku ibunya....anakku tidak konsentrasi belajar menghadapi UN dan UAMBN, aku seorang guru, tapi aku tak berdaya...bukan aku menjastice semua guru tapi ini oknum....bantulah hamba ini ya Allah, beri dan tuntunlah hamba tunjukan bersama kami benar itu benar dan salah itu salah..."

Dalam postingan lain, ia memperlihatkan sapu yang digunakan oknum guru untuk memukul 19 siswa.

"Ini alat sesapunya untuk memukul 19 orang siswa siswiku....( Akuhanya bisamenangis )".

Postingan ini kemudian dikomentari banyak akun lainnya. Akun Alhamdani Al-Sukmani menuliskan, "Mungkin yg terluka lahir batin bukan cuma anak ibu aja bisa jdi semua murid".

Kemudian dijawab Atul Radha, "Itu sudah dilakukan...tapi aku merintih bagaimana mental anakku ditengah teman2nya banyak diperlakukan seperti ini, kejiwaan anakku terganggu sering menangis...akupun merasa pedih...."

Alhamdani Al-Sukmani menuliskan, "Klo pembiaran bisa terulang kembali".

Dijawab Atul Radha, "Aku hanya guru biasa yang buta hukum dan tidak mampu mendapatkan pendamping hukum karena aku takut salah..."

Komentar lain dituliskan akun Moorthy Qurniawan yang mengusulkan untuk melaporkan ke DPRD.

"Bu laporkan ke DPRD bagian komisi A, bagian pendidikan....,, semua ada aturan nya... Bisa kena hukum penjara dan denda uang, atau pemecatan sebagai PNS".

Kemudian dijawab Atul Radha, "Morty jadi sekarang aku sdh bisa lapor ke DPRD ya sementara kasusnya msh ditangani polisi..." (*)

Penulis: Reni Kurnia Wati
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help