Kalteng Kita

Jalan Terputus, Sekolah di Palangkaraya Ini Libur Dua Minggu

Belum lagi, sarana dan prasarana pendukung dan menuju sekolah belum digarap optimal oleh Pemko Palangkaraya, terutama jalan titian ulin yang sudah lap

Jalan Terputus, Sekolah di Palangkaraya Ini Libur Dua Minggu
Facebook
Ilustrasi - Sebuah sekolah di Desa Kayu Bulan, Kecamatan Kapuas Hulu terendam akibat air Sungai Kapuas meluap, Senin (27/2/2017). 

TRIBUNKALTENG.COM, PALANGKARAYA - Sekolah Dasar Negeri 1 Petuk Ketimpun, Kecamatan Jekanraya, Palangkaraya yang terletak di bantaran Sungai Kahayan, banyak mencetak orang-orang sukses terutama dari kalangan nelayan.

Ini sekolah perintis di bantaran Sungai Kahayan yang sudah berusia puluhan tahun. Untuk mencapai sekolah itu menempuh jarak sekitar lima kilometer.

Ketika musim banjir akibat air sungai meluap , jalan penghubung ke sekolah terputus. Jalur darat sekitar dua kilometer menuju kampung nelayan, sekolah itu hanya bisa dilalui menggunakan angkutan kelotok.

Ini, yang menyebabkan wilayah ini masih terisolasi dari keramaian kota.

Belum lagi, sarana dan prasarana pendukung dan menuju sekolah belum digarap optimal oleh Pemko Palangkaraya, terutama jalan titian ulin yang sudah lapuk dan penuh lubang.

Jalan menuju lokasi SDN-1 Petuk Ketimpun jaraknya sekitar 500 meter masih berupa jalan titin ulin yang rawan roboh jika dilalui beban tertentu.

Saat musim hujan, rawan terjadi banjir seperti sekarang. Para siswa biasa ke sekolah menggunakan jukung. Jika jalan titian ikut terendam, tak jarang siswa tercebur ke sungai jika tidak berhati-hati.

“Saya sempat beberapa kali tercebur ke sungai, sehingga belajar pakai baju dan celana yang basah,” tutur Ijal, siswa kelas I SDN-1 Petuk Ketimpun, Kamis (2/3).

Demikian juga pengakuan, Siti, guru di sekolah yang menyebut saat air pasang sekolah ikut terendam, dan jalan menuju sekolah tidak bisa dilewati. Sehingga pelajar ke sekolah naik jukung agar tetap bisa belajar.

“Semangat anak-anak untuk sekolah tinggi, kadang saat ke sekolah pakai jukung terjatuh dan belajar memakai pakaian yang basah,” ujar Siti.

Panca, Kepala Sekolah SDN-1 Petuk Ketimpun, mengakui, banjir akibat sungai meluap menjadi masalah bagi proses belajar mengajar di sekolah yang dipimpinnya.

“Setiap tahun sekolah diliburkan seminggu sampai dua minggu, karena ruang kelas terendam banjir. Aktifitas di halaman tak bisa dipakai hingga tiga bulan jika air meluap menggenangi halaman sekolah.”

Penulis: Fathurahman
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help