TribunKalteng/

Bila Kue Banjar ini Tak Ada di Sesajen, Konon Bakal Ada yang Kesurupan

Ada semacam keyakinan juga jika serabi ini tak ada dalam 41 macam kue itu saat disajikan dalam ritual adat, maka akan ada yang kesurupan.

Bila Kue Banjar ini Tak Ada di Sesajen, Konon Bakal Ada yang Kesurupan
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Penjual serabi banjar saat melayani pembeli di Pasar Ahad, Jalan Ahmad Yani Km 7, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. 

TRIBUNKALTENG.COM, BANJARMASIN - Serabi adalah satu di antara jajanan pasar Indonesia. Beberapa daerah di Nusantara ini memiliki serabi yang secara bentuknya sama, namun rasa dan sejarahnya tentunya ada bedanya.

Satu di antaranya adalah Kalimantan Selatan yang juga memiliki jajanan pasar bernama serabi ini, atau oleh warga lokal biasanya disebut surabi.

Serabi khas Banjar berbahan beras yang direndam lalu dihaluskan, tepung dan air, dibuat adonan lalu dimasak dengan sedikit minyak di wajan.

Memasaknya sebentar saja karena serabi biasanya berupa lembaran tipis sehingga tak bisa dimasak berlama-lama.

Biasanya serabi ini dimakan bersama kuahnya, berbahan gula merah. Terkadang ada juga yang kuahnya dicampuri santan.

Serabi kerap ditemui dijual di pasar-pasar tradisional di Kalimantan Selatan, seperti di Pasar Ahad, Jalan Ahmad Yani Km 7, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Seorang penjualnya adalah Masniah (63).Dia biasanya menjual selembar serabi Rp 2.000. Tiap hari dia berjualan di pasar ini dari pagi.

“Serabi ini sejak lama menjadi makanan tradisional orang Banjar. Di daerah lain juga ada, tetapi saya nggak tahu bedanya serabi Banjar dengan serabi daerah lain apa saja,” ungkapnya.

Kendati dari segi bentuknya sama, namun dari sisi sejarahnya keberadaan kue ini cukup menarik karena merupakan syarat penting dalam ritual-ritual adat orang Banjar sejak dulu.

Suku Banjar memiliki 41 macam kue tradisional penting yang harus ada dalam sesajen yang dipersembahkan dalam banyak ritual adatnya seperti pengobatan, perkawinan, dan sebagainya.

Biasanya, adat tersebut dilakukan secara turun temurun dari generasi ke generasi dalam keluarga Kerajaan Banjar.

Ada semacam keyakinan juga jika serabi ini tak ada dalam 41 macam kue itu saat disajikan dalam ritual adat, maka akan ada yang kesurupan.

“Biasanya sering kejadian seperti itu. Di zaman sekarang pun masih ada yang begitu. Kalau dulu, keyakinan seperti itu kental sekali,” sebutnya.

Menuju pasar ini, bisa menggunakan kendaraan umum seperti becak atau ojek. Tarifnya tentu saja sesuai kesepakatan dengan pengemudinya. Warung serabi ini berada di halaman belakang pasar tersebut.

Kondisi pasarnya agak kumuh memang, namun lumayan bisa diandalkan sebagai destinasi wisata kuliner karena pasar ini padat sekali tiap Minggu pagi hingga siang dan banyak kuliner tradisional Banjar yang jarang ditemui di tempat lain dijual di sini, seperti serabi ini.

Para penjual makanan biasanya memenuhi pasar ini hingga ke halaman depan dan tepi jalannya.
Tinggal pilih saja, mau membeli makanan apa.

Penulis: Yayu
Editor: Mustain Khaitami
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2017
About Us
Help