Ini Pintu ke Level Dunia

TIMNAS Indonesia boleh takluk dari Timnas Belanda dalam laga persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, malam tadi.

Tayang:
Editor: Anjar
TRIBUNKALTENG.COM - TIMNAS Indonesia boleh takluk dari Timnas Belanda dalam laga persahabatan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, malam tadi. Namun, pemerintah dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) percaya laga yang disiarkan langsung di belasan negara itu menjadi pemacu prestasi sepak bola nasional.

Kehadiran der Oranje tak hanya menyemaikan diplomasi antarnegara melalui bola. Di balik kehebatan mereka memainkan bola, ada pelajaran dan pengalaman ekstra berharga, sekaligus melecut spirit pesepak bola Indonesia untuk menyejajarkan diri dengan pesepak bola Korsel bahkan negara-negara di Eropa.

“Saya sangat optimistis sepak bola Indonesia akan maju. Kalau kita bicara masa silam, sepak bola Inggris juga semerawut, banyak orang bunuh-bunuhan (anarkisme), lapangan roboh dan lain-lain. Sekarang Inggris menjadi liga paling besar dalam industri sepak bola,” kata CEO Ninesport Inc, Arif Putra Wicaksana kepada BPost di Jakarta. Arif adalah aktor di balik kedatangan Timnas Belanda.

Menantu Bambang Trihatmodjo (putra mantan Presiden Soeharto) ini memiliki misi lain dengan mendatangkan tim bintang tersebut. “Tujuan akhirnya, Timnas Indonesia bisa bicara di level dunia. Mengibarkan bendera Merah Putih di negara lain,” tegasnya.

Arif mengaku sangat terinspirasi dari keberhasilan Timnas Korsel. Negara Gingseng tersebut bisa bicara di level dunia hingga menjadi peserta Piala Dunia setelah mendapat tempaan pelatih Guus Hiddink.

“Hiddink punya konsep, mengumpulkan para pemain muda, lalu mereka dilawankan dengan pemain level Eropa, hasilnya 6-0. Terus menerus dialakukan. Akhirnya terbukti Korsel bisa bicara banyak di level dunia dan sampai sekarang masuk Piala Dunia. Kalau Korsel saja bisa, mengapa Indonesia tidak bisa?” ujarnya.

Ditilik dari sisi bisnis, Arif mengaku selaku promotor menginginkan mendapat keuntungan sebesar-besarnya dari pertandingan antarnegara itu. “Motivasi bisnisnya, pasti money oriented. Saya lihat industri sepak bola di Indonesia sangat seksi. Kalau kita bicara fans sepak bola di dunia, pertama ada Cina, India, Amerika dan keempat, Indonesia,” ucap Arif.

Salah satu sumber pemasukan dari laga itu adalah penjualan tiket. Bekerja sama dengan agen tiket, dia menjual 60 ribu tiket reguler, termasuk undangan khusus dan tiket paketan VVIP Skybox berbanderol di atas Rp 200 juta per boks. Tiket reguler, pihak promotor menjual mulai kisaran Rp 50 ribu untuk kursi tribun atas hingga Rp 1,75 juta untuk kursi VVIP.

Banyak Tujuan

Ketua Umum PSSI, Djohar Arifin Husin pun menyambut gembira. “Laga menghadapi Timnas Belanda merupakan pintu bermain di Eropa. Saat ini perhatian pecinta sepak bola dunia tertuju ke Indonesia. Ini kebanggaan karena bisa melawan pemain kelas dunia. Ini pengalaman luar biasa,” kata Djohar.

Laga spesial itu selain disiarkan langsung oleh RCTI, juga SBS di Belanda, Al-Jazeera (untuk negara-negara Timur Tengah ), Be In Sport (Perancis), Be In Sport (AS), Cineplex (Thailand), Starhub (Singapura), ESPN (Inggris Raya), Charlton (Israel), Supersport (untuk negara-negara Afrika), dan SportKlub (untuk negara-negara Eks Yugoslavia).

Harapan tinggi juga digaungkan Menpora Roy Suryo. Dia menyebut laga Timnas Indonesia melawan Belanda sebagai momentum mengembalikan ruh persepakbolaan Indonesia.Selain itu, juga menjadi momentum bagi pemain nasional untuk menyerap ilmu para bintang Belanda.

“Tujuannya sangat banyak, termasuk coaching clinic, pertukaran ilmu (manajemen) dan sebagainya. Jadi, jangan dilihat menang-kalahnya saja. Tujuannya sangat banyak,” tegasnya.

Sebaliknya, nada minor diucapkan mantan pelatih Timnas Indonesia asal Belanda, Wim Rijsbergen. Saat diwawancarai Telegraph, Wim menyebut tak ada untungnya bagi Belanda beruji coba melawan Indonesia.

Ia menilai laga tak terlepas karena hubungan kolonial. Alasannya, peluang Belanda untuk Piala Dunia 2014 terbuka lebar. Sebaliknya kualitas tim Merah Putih yang berada di ranking 170 FIFA, bukanlah tandingan der Oranje.

“Pasti ada alasan khusus mereka mau datang ke Indonesia,” ucap dia. (tribunnews/coz/gle/lau)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved