Belanda Minta Maaf
LAGA persahabatan antara Timnas Indonesia dan Belanda sudah berakhir dengan kemenangan tim tamu 3-0.
Di luar hasil laga, permasalahan tidak bisanya skuad asuhan Jacksen F Tiago mengenakan jersey utama warna merah dan putih, masih berlanjut. Banyak kalangan mempertanyakan bahkan mengecam alasan timnas Belanda yang mengaku hanya membawa seragam untuk pertandingan kandang. Alasan itulah yang membuat Timnas Indonesia memakai jersey kedua, warna putih dan hijau.
Menyikapi itu, Presiden Federasi Sepak Bola Belanda (KNVB), Michael Van Praag langsung meminta maaf. Dia pun mengungkapkan telah ada kesepakatan dengan promotor bahwa skuadnya boleh memakai jersey utama berwarna oranje.
Praag mengatakan, KNVB tidak bermaksud menghina Indonesia terkait masalah penggunaan kostum. “Kami memohon maaf kepada Indonesia yang tidak bisa menggunakan kostum merah-putih. Kami hanya menjalankan kesepakatan yang telah disampaikan oleh promotor bahwa kami akan memakai kostum oranye,” ujar dia di Jakarta, Jumat (7/6).
Sementara Sekjen PSSI, Hadiyandra menegaskan akan melakukan evaluasi dengan Nine Sports, selaku promotor pertandingan. Ia menilai, sebelum mencapai kesepakatan mengenai penentuan kostum kedua tim, seharusnya promotor lebih dulu berbicara kepada PSSI.
“Akan ada evaluasi. Belanda ternyata hanya menjalankan keputusan promotor sehingga mereka tidak membawa kostum lain,” tegasnya.
Saat dikonfirmasi CEO Nine Sport Arif Putra Wicaksana selaku promotor mengaku lebih mementingkan keuntungan daripada menjunjung nasionalisme kebangsaan saat menjalin kesepakatan dengan KNVB.
“Saya melihat dari sisi komersial. Kalau promotor tidak ada sisi komersial kan kasihan, kami juga mencari uang. Sepak bola tidak hanya sekadar olahraga, tetapi juga entertainment. Kalau kemarin warnanya tidak diubah menjadi oranye, siapa yang mau profit,” kata dia.
Arif mengungkapkan, kesepakatan soal jersey sudah disepakati pada tahun lalu. Dia pun mengaku sudah berkoordinasi dengan PSSI melalui sekretaris jenderal. “Ini kesepakatan di awal. PSSI tahu sendiri, serbaberubah-ubah sejak saya deal pada Desember (2012) lalu. Sekjennya sudah ganti tiga kali, jadi komunikasinya tidak maksimal antara sekjen pertama, kedua, dan ketiga,” ujar Arif. (tribunnews/gle/deo/kps)